Posted in Keluh Kesah, Puisi

Angin, Hari ini cerah

Titik – titik hujan mulai memudar, adakah hari mulai cerah?

sang awan telah berseliweran ringan, adakah angin yang merayu?

kebisingan dibungkam hening, adakah ruang sekat telah terbelah?

Angin oh angin, adakah ku rindu deru, seru dan dingin mu?

 

Titik titik hujan ternyata sirna, punggawa awan telah bergegas di ruang bebas

Riuh dedaunan mengundang kupu-kupu tuk hinggap, hinggapnya menitip benih

Angin tetap mendesah, langit biru tetap hening sumringah tanda puas

Angin oh angin, aku kini melangkah lagi, langkah tegap menatap pasti sang destinasi

 

Basah bumi bekas titik hujan masih ada, adakah cahaya datang menyapa?

Sang awan kini diam bak lukisan, adakah angin rehat sejenak?

Hening itu tak ada suara, adakah awan dan langit biru sedang beralih rupa?

Angin oh angin, adakah desahanmu masih merdu menghentak?

 

Bumi tak basah lagi tanda titik hujan telah takluk, takluknya bukan risau

Awan yang terpaku ditembus cahaya, cahaya yang terang nan berkilau

Masih diam, masih hening, masih mendesah, tapi langit biru makin silau

Angin oh angin, ternyata sang destinasi tak berjarak walau sepisau

 

Salam damai penuh cinta dari Kathmandu

Fadli

 

Posted in KELUARGAKU, Keluargaku dan senyuman kami, Puisi

KAU AKU, JEJAK KITA

KAU AKU, JEJAK KITA (09 SEPTEMBER )
Kau aku mulai karena Allah, Kau aku sepakat karena Allah

Kau aku terombang-ambing, terguncang tak payah kita terus mendayung

Kau aku tersentak, tertegun, luluh lantak tak gentar kita belah

Kau aku tertawa, tersenyum, bahagia tak bosan kita sanjung
Kau aku, Takkan ku hitung berapa juta detik yang telah kita lalu

Kau aku, Takkan ku batas berjuta rasa bahagia yang telah kau haturkan

Kau aku, Takkan ku pasung lembut kasih mu selalu

Kau aku, Takkan ku retas  berjuta percaya yang telah kau balurkan
Kau ikhlas, saat ku persembahkan Lila sang Cerdas Tasnima
Kau tersenyum, saat ku berikan Lala si Cerdik Salsabilah

Kau terpana, saat ku tahtakan Lilo sang Inovator Kautsar

Kau topang, saat ku goyah menghantarkan kepada-NYA Lulan si Perindu Kaafuur

Kau bahagia, saat ku hadapkan Yihan sang Ceria Mustaiinah
Kau aku, tak boleh lelah, boleh cerah

Kau aku, tak lekang waktu, Allah Maha Agung

Kau aku, tak boleh resah, boleh sumringah

Kau aku, tak kenang lain sekutu, Allah Maha Penyambung
Kau aku, ya 09 September,  dulu hari ini dan akan datang

Kau aku, Insya Allah Barakah,  dulu hari ini dan akan datang

Kau aku, ya rindu terumbar, dulu hari ini dan akan datang

Kau aku, Mawaddah dan Sakinah, dulu hari ini dan akan datang
Miss you like crazy Marlita Djakrora
Fadli Usman, wrote in Tacloban City

Salam dari Kathmandu

Posted in Islam, Keluh Kesah, Puisi, Uncategorized

Puisi Tauhid – SAYA

SAYA

SAYA yang tak bernama tak jauh dari yang bernama
SAYA yang tak bersuara tak senyap dari yang bersuara
SAYA yang tak bermata bisa melihat oleh yang punya mata
SAYA yang tak berhati menitipkan Rasa kepada yang punya hati

Hey, SAYA ada di sini, di situ, disana di manapun kau menengadahkan wajahmu
Hey, SAYA LOVE kau
Hey, SAYA yang kau tahu tak kau kenal
Hey, iya kau yang congkak, jangan lupa, kau pinjam segala kepunyaan SAYA tanpa biaya sewa
Hey, tak ada orang lain, kau yang SAYA maksud, kau yang sok pintar, jangan lupa , kau hanyalah manekin jika SAYA mau

Berhentilah menjilat SAYA ketika kau susah
SAYA tak butuh pujian mu, oh iya, apakah kau yakin Pujian mu itu untuk SAYA
Kau rasa itu penting buat SAYA
Tidak sama sekali dan sama sekali Tidak

Angin berhembus itu kau, Api berkobar itu kau
Air yang mengalir itu kau, Tanah berlumpur itu kau
Langit itu kau, bumi itu kau, siang itu kau, malam itu kau
Manis itu kau, payau itu kau, asin itu kau
Pahamkah kau posisi mu dan SAYA

hmmm, Ya sudahlah kalau kau tak paham, tapi pahamilah SAYA segera. Tahukan arti segera? jika tak segera saya akan pamit tanpa kau tahu
Dan jika saya PAMIT maka kaupun pasti PAMIT

 

Fadli

Posted in Islam, Puisi, Uncategorized

Nama-KU Sunyi

Namaku Sunyi

Aku sunyi tapi tak senyap
Aku yang tampak sendiri ternyata berdua
Aku yang bercahaya tapi bukan sinar
Akulah si Sunyi yang memandu sang gaduh untuk diam

Sunyi itu lengang irama ketenangan
Irama yang kau rindu tuk di jamah
Sayang, dalam gelap Aku melihatmu
Sayang, dalam terang kau memandangKu

Desah napasmu menegaskan Aku ada
Aku yang menuntunmu naik dan juga turun dalam kemasgulan
Kau yang merindukanku, heninglah
Kau yang ingin menyapaku, mendesahlah

Sunyi bukan sepi, karena sepi tanda luruh
Sunyi mengundang erangan, gerak dan goyang
Sunyi mencengkeram hati, memacu gelora
Sunyi menghadirkan penggemar Sunyi yang lain

Kau hanya bermulut, Aku yang berpuisi
Kau hanya berjari, Aku yang menulis
Kau yang berotak, Aku yang berakal
Kau ada karena Sunyi beradu dalam kesunyian

Posted in Keluh Kesah, Puisi, Uncategorized

Tanda tanya ke-2

TANDA TANYA KE-2

Sayang, dengan undanganmu lah aku ada
Sayang, dengan cintaku lah kau ada
Sayang, senyummu mengguncang langit dan bumi
Sayang, bumi dan langit ku goncang untuk hidupmu

Aku tak bersyair, Aku bergumam
Aku tak menulis, Aku bernarasi
Aku tak berlari, Aku terseret
Aku tak mendengar, Aku menanti

Kau melangkah, sayang, Aku hamparkan diri ini agar jadi arahmu
Kau bernyanyi, sayang, Aku hembuskan diri ini agar jadi suaramu
Kau menari, sayang, Aku sediakan diri ini tuk jadi gerak mu
Kau tertawa, sayang, Aku hinakan diri ini tuk jadi bahagiamu

Jika tak tahu, tanyalah, tanyalah kepada yang benar, jangan kepada yang tak benar
Jika tak mau, sahutlah, sahutlah kemauanmu, kemauan yang benar jangan yang tak benar
Jika tak sabar, tunggulah, tunggu lah kebenaran, kebenaran yg benar jangan yang tak benar
Jika tak cekatan, berlatihlah, berlatihlah dengan semangat, semangat yang benar jangan semangat yang tak benar

Masihkah kau tak tahu apa yang kau mau? masihkah kau tak tahu apa yang kumau?
Masihkah kau tak tahu siapa kau? masihkau kau tak tahu siapa aku?
Kenapa genggaman tanganku kau lepas? kenapa perisai ini kau buang?

Sayang, Jangan kau buat undangan ini usang
Sayang, Jangan kau buat cinta ini berbatas
Sayang, Jangan kau pagar sabar ini
Sayang, Jangan kau kuliti hati ini

Sungguh, dada yang tipis ini masih mampu menampung wajahmu, tapi kau menusuknya
Bukan aku, ya bukan aku, tapi kau yang memaksaku mengabaikanmu
Bukan aku , ya bukan aku, tapi kau yang memaksaku menghapus namamu dalam setiap do’aku
Oh iya, Tak perlu gores TANDA TANYA, karena seperti yang kau tahu TANDA SERU telah di tautkan kepadamu sebelumnya

Posted in Keluargaku dan senyuman kami, Keluh Kesah, Puisi

Puisi untuk Bunda

Bunda

Tertatih tatih langkah mu mengais sebutir beras tuk hidup kami
Tak kau peduli kucuran keringat dan darah, kau bangun mahligai tuk kami berlindung
Engkau merangkak membuang malu menghinakan diri tuk tegakkan kami
Kau terbangun kala kami masih lelap, kau masih terjaga ketika kami memejamkan mata

Bunda..

Sakitmu kau simpan, senyum mu kau tebar, canda mu kau unggah
Airmatamu tak kulihat menetes saat kau perih dan sedih
Batin mu yang goyah tak kau unjukkan
Kau tak menyerah ketika kami liar, Kau tak mengeluh saat kami bersungut, Kau tak berpaling ketika kami jatuh

Bunda..

Adakah napas mu kau sisakan untuk mu sahaja?
Adakah langkah mu kau luangkan untuk mu sahaja?
Adakah bahagia mu kau sedekahkan untuk mu sahaja?
Adakah hidupmu mu kau manfaatkan untuk mu sahaja?

Bunda…

Aku berlutut dan sujud di kaki mu, memohon ampunan mu , memohon ridha mu…..

Aku bersimpuh luruh, dengan lirih ku meminta kepada – NYA

AMPUNILAH BUNDA Ku, Limpahkanlah kesalahan yang dibuatnya kepada ku
SEMPURNAKANLAH dan SELAMATKANLAH BUNDA ku ya ALLAH di kehidupannya saat ini dan saat kembali bersama MU.

 Ya Allah, Aku yang percaya Firman-Mu
وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ إِحۡسَٰنًاۖ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ كُرۡهٗا وَوَضَعَتۡهُ كُرۡهٗاۖ وَحَمۡلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهۡرًاۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٥
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (S. Al-Ahkaf ;15)
Salam