Posted in Keluh Kesah

Demokrasi ala saya

Opini saya selalu benar karena saya MAHA BENAR dan Kalian MAHA SALAH jika bertentangan dengan opini saya

Saya berani memposisikan diri saya sejajar dengan TUHAN karena saya berpendidikan yang baik saya pernah bersekolah dan ber perguruan tinggi ternama, saya cerdas, saya makmur dan sejahtera, saya tanpa cela dan tanpa celah

Dengan kondisi-kondisi tersebut maka apapun pilihan saya PASTI BENAR. Yang bertentangan dengan saya pasti salah.

Saya punya sahabat tapi sebatas itu saja, yang terpenting buat saya adalah sahabat saya akan pintar dan benar di hadapan saya jika sepikiran dengan saya. Jika tidak maka bodoh dan hinalah sahabat tersebut.

Keluarga saya pasti Benar, mereka kan keluarga saya.

Saya akan menggerakkan kecerdasan saya untuk memadukan opini yang maha benar kepada halayak lain. Keluarga dan sahabat yang sepemikiranlah sumber kekuatan saya.

Saya memaksakan kehendak. Saya menghina sahabat saya yang bertentangan dengan saya

Saya tahu kok anti korupsi, saya tahu apa itu ketidak adilan, saya aktifis kemanusiaan, saya praktisi hukum, saya praktisi kesehatan. Saya lah segala-galanya. Saya MAHA SEGALA.

Pilihan pemimpin versi saya juga pemimpin yang benar, tak mungkin salah karena saya maha benar.

Media yang saya baca dan tonton juga adalah media yang mendukung pemikiran saya. Saya akan menyebarkan secara viral info yg menguatkan opini dan pilihan saya atau malah sebaliknya saya menjatuhkan dan menghina pilihan orang lain yang menurut saya mereka adalah Maha Bodoh dan Maha Hina.

Itulah watak saya. Masih mau punya sahabat seperti saya?

 

FADULI

Continue reading “Demokrasi ala saya”

Posted in Keluh Kesah, Puisi

Angin, Hari ini cerah

Titik – titik hujan mulai memudar, adakah hari mulai cerah?

sang awan telah berseliweran ringan, adakah angin yang merayu?

kebisingan dibungkam hening, adakah ruang sekat telah terbelah?

Angin oh angin, adakah ku rindu deru, seru dan dingin mu?

 

Titik titik hujan ternyata sirna, punggawa awan telah bergegas di ruang bebas

Riuh dedaunan mengundang kupu-kupu tuk hinggap, hinggapnya menitip benih

Angin tetap mendesah, langit biru tetap hening sumringah tanda puas

Angin oh angin, aku kini melangkah lagi, langkah tegap menatap pasti sang destinasi

 

Basah bumi bekas titik hujan masih ada, adakah cahaya datang menyapa?

Sang awan kini diam bak lukisan, adakah angin rehat sejenak?

Hening itu tak ada suara, adakah awan dan langit biru sedang beralih rupa?

Angin oh angin, adakah desahanmu masih merdu menghentak?

 

Bumi tak basah lagi tanda titik hujan telah takluk, takluknya bukan risau

Awan yang terpaku ditembus cahaya, cahaya yang terang nan berkilau

Masih diam, masih hening, masih mendesah, tapi langit biru makin silau

Angin oh angin, ternyata sang destinasi tak berjarak walau sepisau

 

Salam damai penuh cinta dari Kathmandu

Fadli

 

Posted in Keluh Kesah, Uncategorized

Indonesia yang tak Sempurna tetapi mengagumkam

Merdeka

Indonesia yang tak sempurna tapi Mengagumkan

Sebelum memulai tulisan ini, saya sejenak mendengar lagu Hari Kemerdekaan

 71 tahun ya itu lah usia kemerdekaan Indonesia, apakah ini usia yang renta? Jawabannya iya jika ke rentaan umur maksimal adalah 100 tahun, tetapi bisa dikatakan masih belia jika maksimum usia kerentaan adalah 1000 tahun atau 10,000 tahun.

Sering kali kita memekik kalimat MERDEKA, NKRI HARGA MATI ! Sebegitu pentingkah Merdeka? Kenapa harus mencintai NKRI?

Merdeka adalah bebas, bebas seperti bayi yang baru lahir dari kandungan ibunya, tapi betulkah sang bayi merdeka setelah lahir ke dunia ini? bukankah sang bayi begitu di cintai ibu dan bapaknya ketika masih berbentuk janjn dalam kandungan? Orang tua menafkahi dan mencukupkan kesejahteraan sang janin hingga menjadi bayi, merawat sang bayi menjadi anak, menemani sang anak menjadi pemuda dan pemudi, dan kemudian memandu pemuda dan pemudi untuk menjadi pemimpin yang bijak.

Jika Merdeka adalah sang bayi yang lahir 71 tahun yang lalu, maka sudah seperti apakah bentuknya sekarang? Siapakah orang tua sang bayi? Bertanggung jawabkah sang orang tua terhadap sang bayi? Atau jangan-jangan sang bayi adalah bayi yatim piatu yang berkembang mandiri tanpa bantuan.

Perkembangan sang bayi tak sempurna, pasang surut kehidupan sang bayi sangat berwarna, di awal kelahiran sang bayi yang tak mengenal imunisasi terkena campak ‘agresi Belanda’, virus dan penyakit silih berganti menganggugu diantaranya PKI Madiun, DI/TII, PRRI/PERMESTA, PKI 1965, Peristiwa Malari, peristiwa Amir biki (tanjung Priok), peristiwa lepasnya Timor timur (sekarang Negara Timor Leste).

Tapi sang bayi berkembang kokoh setelah melewati setiap masa, jauh sebelum lahir sang bayi ternyata berbentuk Zigot, yakni hasil pembuahan (baca peleburan) negara-negara dengan luas kekuasaan skala menengah dan besar, kita kenal Majapahit, Swriwijaya, Samudera Pasay, Ternate, Tidore, Kutai Kertanegara dan masih banyak lagi.

Merdeka itulah sang bayi yang diberi nama NKRI. NKRI memiliki rupa, bentuk, wangi, panca indera, gizi, jiwa, semangat, ruh.

NKRI sekarang tampak gagah, otak NKRI selalu berevolusi, diawal kelahiran si otak bernama Soekarno, cukup lama si otak nyaman dengan kondisinya. Ketika otaknya terkena virus, si otak bergaya ala Safrudin Prawiranegara dan Assat, setelah virus pergi, si otak kembali bergaya Soekarno. NKRI saat itu adalah balita yang istimewa, balita yang mau memimpin dunia, punya banyak inisiatif, banyak kreasi, membangun relasi, sangat digdaya dan harum namanya (mengguncang Jepang dan belanda, negara super power kala itu, memimpin gerakan non blok, inisiasi GANEFO, membentuk ASEAN, dll), Setelah bosan, NKRI mengganti otaknya dengan merek baru bernama Soeharto. NKRI yang beranjak remaja meneruskan bakat pemimpinnya, NKRI mulai cerdas mengelola sumber daya, membuka relasi semakin besar, NKRI tumbuh sehat secara jiwa dan raga, NKRI bergaya atletis dan sporty, dan mapan sehat dan bermartabat (Swasembada beras, inflasi kecil, pertumbuhan ekonomi kerakyatan baik, juara umum SEA GAMES, Thomas Cup dan Uber Cup),  ketika remaja, bersosialisasi dan maju dalam teknologi (Produksi pesawat, otomotif, elektronik, dll). Cukup lama NKRI menjadi pemuda/I yang terlihat digdaya. Apakah NKRI puas, ternyata tidak, NKRI bereformasi dan mengganti otaknya berkali-kali dalam waktu singkat hanya untuk memenuhi gaya hidup kekinian, mulai dari bergaya ala BJ Habibie, ala Abdurrahman Wahid dan ala Megawaty Sukarnoputri. NKRI terkenal dengan remaja labil pada masa itu, berkembang dalam krisis kepercayaan diri. Walau demikian NKRI memiliki jiwa dan raga yang sehat (masih di segani dalam dunia olah raga, banyak peneliti handal bersebaran di penjuru dunia). Mungkin karena lelah, NKRI memilih Susilo bambang Yudoyono sebagai otak baru, NKRI ternyata belum sembuh total dari masa labil, walau akalnya masih sehat , akal yang sehat (juara sains di berbagai even, pekerja-pekerja teknis yang handal tersevar di mana, menjadi anggota G-20, dll) namun banyak anggota tubuhnya yang luka, NKRI memakai pakaian mahal untuk menyembunyikan luka-luka itu. Terlihat berwibawa di mata orang (bangsa, red) lain tetapi NKRI terkena kanker (Korupsi merajalela). NKRI ternyata mau berubah, otaknya yang baru bernama Joko Widodo. Meski masih sakit terlihat gamang dan bingung ternyata NKRI tampak percaya diri tapi belum kokoh seperti yang terlihat (Kampanye Indonesia negara maritime yang mesti berdikari mulai di sanjung negara lain, tapi masih belum bebas korupsi)

NKRI masih menggeliat, NKRI memiliki unsur unsur baik seperti vitamin, mineral, gizi, mental, spritiual, virus baik, unusr-unsur itu mesti bercampur aduk menjadi satu agar bisa melawan virus jahat, dan kuman-kuman, agar tak menggerogoti wibawa, raga, jiwa, dan keharumannya.

Pertanyaan dan penyataan kritis, siapakah vitamin, mineral, gizi, spiritual, mental baik, virus baik? Dan siapakah sesungguhnya lawan mereka? Kenapa mesti para lawan yang menonton unsur-unsur baik bermusuhan tak jelas arah,  bukankah hal-hal baik mestinya bersenyawa dan bersinergi demi NKRI

Wahai Merdeka kau tak perlu berkaca pada bangsa lain

Kau tak perlu iri dan cemburu pada bangsa lain

Wahai Merdeka, kenalilah dirimu, siapakah sesungguhnya dirimu maka kau akan selamat.

Wahai Merdeka, NKRI itu hanya nama, diri mu dan pemilik dirimu lah yang di kenal dan itu harga mati bukan NKRI.

Wahai Merdeka, masih ingatkan proses terlahirnya dirimu?

Nikmat apa lagi yang kau cari? Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?

Dirgahayu Indonesia ku yang 71,  MERDEKA

Salam

Fadli

Posted in Islam, Keluh Kesah, Puisi, Uncategorized

Puisi Tauhid – SAYA

SAYA

SAYA yang tak bernama tak jauh dari yang bernama
SAYA yang tak bersuara tak senyap dari yang bersuara
SAYA yang tak bermata bisa melihat oleh yang punya mata
SAYA yang tak berhati menitipkan Rasa kepada yang punya hati

Hey, SAYA ada di sini, di situ, disana di manapun kau menengadahkan wajahmu
Hey, SAYA LOVE kau
Hey, SAYA yang kau tahu tak kau kenal
Hey, iya kau yang congkak, jangan lupa, kau pinjam segala kepunyaan SAYA tanpa biaya sewa
Hey, tak ada orang lain, kau yang SAYA maksud, kau yang sok pintar, jangan lupa , kau hanyalah manekin jika SAYA mau

Berhentilah menjilat SAYA ketika kau susah
SAYA tak butuh pujian mu, oh iya, apakah kau yakin Pujian mu itu untuk SAYA
Kau rasa itu penting buat SAYA
Tidak sama sekali dan sama sekali Tidak

Angin berhembus itu kau, Api berkobar itu kau
Air yang mengalir itu kau, Tanah berlumpur itu kau
Langit itu kau, bumi itu kau, siang itu kau, malam itu kau
Manis itu kau, payau itu kau, asin itu kau
Pahamkah kau posisi mu dan SAYA

hmmm, Ya sudahlah kalau kau tak paham, tapi pahamilah SAYA segera. Tahukan arti segera? jika tak segera saya akan pamit tanpa kau tahu
Dan jika saya PAMIT maka kaupun pasti PAMIT

 

Fadli

Posted in Keluh Kesah, Puisi, Uncategorized

Tanda tanya ke-2

TANDA TANYA KE-2

Sayang, dengan undanganmu lah aku ada
Sayang, dengan cintaku lah kau ada
Sayang, senyummu mengguncang langit dan bumi
Sayang, bumi dan langit ku goncang untuk hidupmu

Aku tak bersyair, Aku bergumam
Aku tak menulis, Aku bernarasi
Aku tak berlari, Aku terseret
Aku tak mendengar, Aku menanti

Kau melangkah, sayang, Aku hamparkan diri ini agar jadi arahmu
Kau bernyanyi, sayang, Aku hembuskan diri ini agar jadi suaramu
Kau menari, sayang, Aku sediakan diri ini tuk jadi gerak mu
Kau tertawa, sayang, Aku hinakan diri ini tuk jadi bahagiamu

Jika tak tahu, tanyalah, tanyalah kepada yang benar, jangan kepada yang tak benar
Jika tak mau, sahutlah, sahutlah kemauanmu, kemauan yang benar jangan yang tak benar
Jika tak sabar, tunggulah, tunggu lah kebenaran, kebenaran yg benar jangan yang tak benar
Jika tak cekatan, berlatihlah, berlatihlah dengan semangat, semangat yang benar jangan semangat yang tak benar

Masihkah kau tak tahu apa yang kau mau? masihkah kau tak tahu apa yang kumau?
Masihkah kau tak tahu siapa kau? masihkau kau tak tahu siapa aku?
Kenapa genggaman tanganku kau lepas? kenapa perisai ini kau buang?

Sayang, Jangan kau buat undangan ini usang
Sayang, Jangan kau buat cinta ini berbatas
Sayang, Jangan kau pagar sabar ini
Sayang, Jangan kau kuliti hati ini

Sungguh, dada yang tipis ini masih mampu menampung wajahmu, tapi kau menusuknya
Bukan aku, ya bukan aku, tapi kau yang memaksaku mengabaikanmu
Bukan aku , ya bukan aku, tapi kau yang memaksaku menghapus namamu dalam setiap do’aku
Oh iya, Tak perlu gores TANDA TANYA, karena seperti yang kau tahu TANDA SERU telah di tautkan kepadamu sebelumnya

Posted in Keluargaku dan senyuman kami, Keluh Kesah, Puisi

Puisi untuk Bunda

Bunda

Tertatih tatih langkah mu mengais sebutir beras tuk hidup kami
Tak kau peduli kucuran keringat dan darah, kau bangun mahligai tuk kami berlindung
Engkau merangkak membuang malu menghinakan diri tuk tegakkan kami
Kau terbangun kala kami masih lelap, kau masih terjaga ketika kami memejamkan mata

Bunda..

Sakitmu kau simpan, senyum mu kau tebar, canda mu kau unggah
Airmatamu tak kulihat menetes saat kau perih dan sedih
Batin mu yang goyah tak kau unjukkan
Kau tak menyerah ketika kami liar, Kau tak mengeluh saat kami bersungut, Kau tak berpaling ketika kami jatuh

Bunda..

Adakah napas mu kau sisakan untuk mu sahaja?
Adakah langkah mu kau luangkan untuk mu sahaja?
Adakah bahagia mu kau sedekahkan untuk mu sahaja?
Adakah hidupmu mu kau manfaatkan untuk mu sahaja?

Bunda…

Aku berlutut dan sujud di kaki mu, memohon ampunan mu , memohon ridha mu…..

Aku bersimpuh luruh, dengan lirih ku meminta kepada – NYA

AMPUNILAH BUNDA Ku, Limpahkanlah kesalahan yang dibuatnya kepada ku
SEMPURNAKANLAH dan SELAMATKANLAH BUNDA ku ya ALLAH di kehidupannya saat ini dan saat kembali bersama MU.

 Ya Allah, Aku yang percaya Firman-Mu
وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ إِحۡسَٰنًاۖ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ كُرۡهٗا وَوَضَعَتۡهُ كُرۡهٗاۖ وَحَمۡلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهۡرًاۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٥
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (S. Al-Ahkaf ;15)
Salam
Posted in Islam, Keluh Kesah, Membaca Al-Qur'an, Uncategorized

KOSONG BERMAKNA

KOSONG yang bermakna

Aku adalah HILAL yang nyata
Aku tak bersembunyi, kenapa kau tak melihatku
Kenapa kau menghambur-hamburkan uang untuk melihatku
Tak itu saja, kau berkelahi demi pengakuan siapa yang telah melihatku dan kau bilang berkelahi itu rahmat?hhhhmm
Dan, dengan egomu masing masing kau anggap sudah melihatku padahal tidak.
Jika tak melihatku kenapa kau berani beraninya menahan lapar dan dahaga? Dan itu kau sebut Puasa? hmmm

Jika Puasa adalah BERSERAH DIRI dan nama bulan adalah WAKTU, sementara Ramadhan artinya NIKMAT, maka?
Karenanya aku di sunnahkan berSAHUR, aku meNIKMATI rejeki yang lahir
Tapi nikmat rejeki yang lahir itu kecil, Aku mesti berPuasa, mesti BERSERAH DIRI, SEMUANYA mesti ku serahkan kembali kepada PEMILIKnya. Jika sudah kuserahkan artinya aku tak punya apa apalagi, terus kenapa aku masih berkata bohong, masih memfitnah? aku masih tak mendengar pendapat orang, masih tak melihat cahaya-Nya, masih tak berperasaan damai dan cinta? masih suka membunuh? masih memperkosa, masih berzina?masih mencuri? masih bermuka dua? hmmm

Akupun di suruh segerakan berbuka (Renungan) puasa, sesekali ku renungi bahwa tanpa menikmati nikmat aku tak bisa berpuasa dan jika sudah berhasil ku serahkan aku mesti berHARI RAYA (Hari berjaya). Aku berjaya karena telah bertemu yang EMPUnya diri. Aku fana DIA ada. Akupun HARAM berpuasa pada hari berjaya. Aku HARAM mengaku bahwa ini semua KEPUNYAANKU.
Karenanya sepanjang tahun sepanjang hayat aku mesti berserah diri dan merasakan NIKMAT. Hingga aku berhari raya.
Aku berharap aku tak berhari raya sendiri saja, akan ku ajak isteriku, anakku, kedua pasang orang tuaku, saudara-saudaraku,dan sahabat-sahabatku sehingga hari raya menjadi ramai dan meriah

Selamat melanjutkan puasa (berserah diri). Semoga kita semua bisa berhari raya, Amin. Barakallah

Salam dari Kathmandu, Nepal

Continue reading “KOSONG BERMAKNA”