Posted in Islam, Membaca Al-Qur'an

Surat #8 Al Anfal atau Surat Rampasan Perang

Sekilas surat ini adalah surat yang berisi tentang tata cara perang dan bagaimana memenangkannya. Ternyata tidak, sesungguhnya ini adalah sejarah perjuangan Islam yang di pimpin langsung oleh baginda rasulullah SAW. Beliau mengajarkan kedisiplinan, efisien dan efektif dalam mempertahankan hidup dan Aqidah. Beliau juga di bimbing Allah SWT untuk berlaku adil dan membimbing ummatnya yang dalam kondisi tidak percaya diri.

Silahkan lihat ilustrasi pada video berikut tentang perang badar

Surat Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفالal-Anfāl, “Jarahan”) adalah surat ke-8 pada al-Qur’an. Surat ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyah. Surat ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya. Menurut riwayat Ibnu Abbas, surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan 2 Hijriah atau 17 Maret 624 Masehi. Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam. Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan 313 orang untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah 1,000 orang dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit. Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.

Kaum Muslim dan penduduk Mekkah telah terlibat dalam beberapa kali konflik bersenjata skala kecil antara akhir 623 sampai dengan awal 624, dan konflik bersenjata tersebut semakin lama semakin sering terjadi. Meskipun demikian, Pertempuran Badar adalah pertempuran skala besar pertama yang terjadi antara kedua kekuatan itu.

Pertempuran ini sangatlah berarti karena merupakan bukti pertama bahwa mereka sesungguhnya berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Mekkah. Mekkah saat itu merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Arabia zaman jahiliyah. Kemenangan kaum Muslim juga memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa suatu kekuatan baru telah bangkit di Arabia, serta memperkokoh otoritas Muhammad sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai. Berbagai suku Arab mulai memeluk agama Islam dan membangun persekutuan dengan kaum Muslim di Madinah; dengan demikian, ekspansi agama Islam pun dimulai.

Sebelum mengkaji secara umum mari kita lihat Hadits Riwayat Muslim no 3309 tentang Perang badar

33093309_2

[[[Telah menceritakan kepada kami [Hannad bin Sari] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Al Mubarak] dari [Ikrimah bin Ammar] telah menceritakan kepadaku [Simak Al Hanafi] dia berkata; aku mendengar [Ibnu Abbas] berkata; telah menceritakan kepadaku [Umar bin Khattab] berkata, “Ketika perang Badr.” (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami [Zuhair bin Harb] dan ini adalah lafadz dia, telah menceritakan kepada kami [Umar bin Yunus Al Hanafi] telah menceritakan kepada kami [Ikrimah bin ‘Ammar] telah menceritakan kepadaku [Abu Zumail] -yaitu Simak Al Hanafi- telah menceritakan kepadaku [Abdullah bin Abbas] dia berkata; telah menceritakan kepadaku [Umar bin Khattab] dia berkata, “Saat terjadi perang Badr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat pasukan orang-orang Musyrik berjumlah seribu pasukan, sedangkan para sahabat beliau hanya berjumlah tiga ratus Sembilan belas orang. Kemudian Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan wajahnya ke arah kiblat sambil menengadahkan tangannya, beliau berdo’a: “ALLAHUMMA ANJIS LII MAA WA’ADTANI, ALLAHUMMA AATI MAA WA’ADTANI, ALLAHUMMA IN TUHLIK HAADZIHIL ‘ISHAABAH MIN AHLIL ISLAM LA TU’BAD FIL ARDLI (Ya Allah, tepatilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan Islam yang berjumlah sedikit ini musnah, niscaya tidak ada lagi orang yang akan menyembah-Mua di muka bumi ini).’ Demikianlah, beliau senantiasa berdo’a kepada Rabbnya dengan mengangkat tangannya sambil menghadap ke kiblat, sehingga selendang beliau terlepas dari bahunya. Abu Bakar lalu mendatangi beliau seraya mengambil selendang dan menaruhnya di bahu beliau, dan dia selalu menyeratai di belakang beliau.” Abu Bakar kemudian berkata, “Ya Nabi Allah, cukuplah kiranya anda bermunajat kepada Allah, karena Dia pasti akan menepati janji-Nya kepada anda.” Lalu Allah menurunkan ayat: ‘((ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut) ‘ (Qs. Al Anfaal: 9), Allah lalu membantunya dengan tentara Malaikat.” Abu Zumail berkata, “Ibnu Abbas menceritakan kepadaku, dia katakan, “Pada hari itu, ketika seorang tentara Islam mengejar tentara Musyrikin yang berada di hadapannya, tiba-tiba terdengar olehnya bunyi suara cemeti di atas kepala seorang Musyrik itu, dan suara seorang penunggang kuda berkata, “Majulah terus wahai Haizum!. Tanpa diduga, seorang Musyrik yang berada di hadapannya telah mati terkapar dengan hidungnya bengkak, dan mukanya terbelah seperti bekas pukulan cambuk serta seluruh tubuhnya menghijau. Lalu tentara Muslim itu datang melaporkan peristiwa yang baru saja dialaminya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Kamu benar, itu adalah pertolongan Allah dari langit ketiga.” Pada hari itu, tentara kaum Muslimin dapat membunuh tujuh puluh tentara kaum Musyrikin, dan berhasil menawan tujuh puluh orang tawanan.” Abu Zumail melanjutkan, “Ibnu Abbas berkata, “Tatkala tawanan telah mereka tahan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Abu Bakar dan Umar: “Bagaimana pendapat kalian mengenai tawanan ini?” Abu Bakar menjawab, “Wahai Nabi Allah, mereka itu adalah anak-anak paman dan masih famili kita, aku berpendapat, sebaiknya kita pungut tebusan dari mereka. Dengan begitu, kita akan menjadi kuat terhadap orang-orang kafir, semoga Allah menunjuki mereka supaya masuk Islam.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Bagaimana pendapatmu wahai Ibnul Khattab?” Aku menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak setuju dengan pendapat Abu Bakar. Menurutku, berilah aku kesempatan untuk memenggal leher mereka, berilah kesempatan kepada Ali supaya memenggal leher ‘Uqail, dan berilah kesempatan kepadaku supaya memenggal leher si fulan -maksudnya saudaranya sendiri-, karena mereka adalah para pemimpin kaum kafir dan pembesar-pembesar mereka.” Akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyetujui pendapat Abu Bakar dan tidak menyutujui pendapatku. Di keesokan harinya, aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku dapati beliau sedang duduk menangis berdua dengan Abu Bakar, lalu aku berkata, “Ceritakanlah kepadaku, apa sebabnya anda berdua menangis? Jika bisa menangis maka aku akan menangis, jika tidak bisa maka aku akan pura-pura menangis untuk kalian.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku menangis karena tebusan yang dipungut sahabatmu terhadap para tawanan itu, lebih murah daripada harga kayu ini.” -yaitu kayu yang berada didekat Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam- Lalu Allah Azza wa jalla menurunkan ayat: “…Tidak pantas bagi seorang Nabi mempunyai seorang tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi ini…-hingga firman Nya- maka makanlah olehmu sebagian harta rampasan) ‘ (Qs. Al Anfaal: 67-69). Karena itulah Allah menghalalkan harta rampasan buat mereka.”]]]

Pokok isi keselurahan ayat adalah tentang Perang badar

  • Cara pembagian ghanimah ditentukan oleh Allah SWT dan Rasul pada ayat 1
  • Sifat-sifat orang mukmin pada ayat 2-4
  • Keengganan sebagian sahabat untuk pergi ke perangan Badar dan pertolongan Allah SWT kepada kaum muslimin Ayat 5-14
  • Larangan melarikan diri dari pertempuran Ayat 15-19
  • Larangan menyalahi perintah-perintah Allah SWT Ayat 20-23
  • Kewajiban mentaati perintah Allah SWT dan Rasul-Nya Ayat 24-26
  • Larangan berkhianat dan faedah bertakwa Ayat 27-29
  • Permusuhan kaum musyrkin terhadap Nabi dan kewajiban memerangi mereka sampai terpelihara agama Allah SWT Ayat 30-40
  • Cara pembagian ghanimah Ayat 41
  • Rahmat Allah SWT kepada kaum Muslimin dalam peperangan Badar Ayat 42-44
  • Kewajiban berteguh hati, bersatu dalam peperangan dan larangan berlaku sombong dan ria Ayat 45-
  • Pengkhianatan setan terhadap janjinya kepada pengikut-pengikutnya Ayat 48-51
  • Kebinasaan sesuatu kaum adalah lantaran perbuatan mereka sendiri Ayat 52-57
  • Syirik adalah dosa yang paling besar dan sikap menghadapi kaum musyrikin dalam peperangan Ayat 58-60
  • Cinta perdamaian dan keharusan mempertebal semangat jihad Ayat 61-75

Kesimpulan

Perang Badar dimenangkan Rasulullah dan pasukannya pada tanggal 17 Ramadhan dengan bantuan para malaikat yang dikirim oleh Allah SWT. Kita patut ingat pada kisah yang lain ternyata Rasulullah juga menerima Al-Quran sekaligus menjadi Rasul Allah pertama kali pada tanggal 17 Ramadhan. Jumlah kecil bukan berarti lemah, jumlah banyak bukan berarti kuat dan berkualitas. Dalam surat ini disebutkan cara pembagian harta rampasan perang, jihad, cinta damai dan dilarang syirik.

Hubungan surat Al Anfaal dan Surat Attaubah

Surat Al Anfaal dan surat At Taubah terdapat hubungan yang erat sekali, seakan-akan keduanya merupakan satu surat, diantaranya

  • Surat Al Anfaal dan Surat At Taubah menyebut sifat-sifat orang-orang yang sempurna imannya, dan sifat-sifat orang-orang kafir, lalu pada akhir surat diterangkan pula tentang hukum perlindungan atas orang-orang muslim yang berhijrah, orang-orang muslim yang tidak berhijrah serta orang-orang kafir.
  • Surat Al Anfaal mengemukakan bahwa yang mengurus dan memakmurkan Masjidilharam itu ialah orang-orang yang bertakwa, sedang surat At Taubah menerangkan bahwa orang-orang musyrik tidak pantas mengurus dan memakmurkan mesjid, bahkan mereka akan menghalang-halangi orang-orang Islam terhadapnya.
  • Surat Al Anfaal dan Surat At Taubah menerangkan tentang memerangi orang-orang musyrikin dan Ahli Kitab.
  • Perjanjian yang dikemukakan surat Al Anfaal dijelaskan oleh surat At Taubah, terutama hal-hal yang berhubungan dengan pengkhianatan musuh terhadap janji-janji mereka.
  • Surat Al Anfaal dan At Taubah menganjurkan agar bernafkah di jalan Allah. Surat Al Anfaal diterangkan tentang penggunaan harta rampasan perang, sedang surat At Taubah menerangkan penggunaan zakat.
  • Surat Al Anfaal dan A Taubah mengemukakan tentang orang-orang munafik

Maha Nyata Allah dengan segala Kuasa-Nya

Fadli

 

Sumber ;

  1. wikipedia
  2. https://tafsiralquran2.wordpress.com/2012/11/01/m8/

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s