Posted in Keluh Kesah, Uncategorized

Indonesia yang tak Sempurna tetapi mengagumkam

Merdeka

Indonesia yang tak sempurna tapi Mengagumkan

Sebelum memulai tulisan ini, saya sejenak mendengar lagu Hari Kemerdekaan

 71 tahun ya itu lah usia kemerdekaan Indonesia, apakah ini usia yang renta? Jawabannya iya jika ke rentaan umur maksimal adalah 100 tahun, tetapi bisa dikatakan masih belia jika maksimum usia kerentaan adalah 1000 tahun atau 10,000 tahun.

Sering kali kita memekik kalimat MERDEKA, NKRI HARGA MATI ! Sebegitu pentingkah Merdeka? Kenapa harus mencintai NKRI?

Merdeka adalah bebas, bebas seperti bayi yang baru lahir dari kandungan ibunya, tapi betulkah sang bayi merdeka setelah lahir ke dunia ini? bukankah sang bayi begitu di cintai ibu dan bapaknya ketika masih berbentuk janjn dalam kandungan? Orang tua menafkahi dan mencukupkan kesejahteraan sang janin hingga menjadi bayi, merawat sang bayi menjadi anak, menemani sang anak menjadi pemuda dan pemudi, dan kemudian memandu pemuda dan pemudi untuk menjadi pemimpin yang bijak.

Jika Merdeka adalah sang bayi yang lahir 71 tahun yang lalu, maka sudah seperti apakah bentuknya sekarang? Siapakah orang tua sang bayi? Bertanggung jawabkah sang orang tua terhadap sang bayi? Atau jangan-jangan sang bayi adalah bayi yatim piatu yang berkembang mandiri tanpa bantuan.

Perkembangan sang bayi tak sempurna, pasang surut kehidupan sang bayi sangat berwarna, di awal kelahiran sang bayi yang tak mengenal imunisasi terkena campak ‘agresi Belanda’, virus dan penyakit silih berganti menganggugu diantaranya PKI Madiun, DI/TII, PRRI/PERMESTA, PKI 1965, Peristiwa Malari, peristiwa Amir biki (tanjung Priok), peristiwa lepasnya Timor timur (sekarang Negara Timor Leste).

Tapi sang bayi berkembang kokoh setelah melewati setiap masa, jauh sebelum lahir sang bayi ternyata berbentuk Zigot, yakni hasil pembuahan (baca peleburan) negara-negara dengan luas kekuasaan skala menengah dan besar, kita kenal Majapahit, Swriwijaya, Samudera Pasay, Ternate, Tidore, Kutai Kertanegara dan masih banyak lagi.

Merdeka itulah sang bayi yang diberi nama NKRI. NKRI memiliki rupa, bentuk, wangi, panca indera, gizi, jiwa, semangat, ruh.

NKRI sekarang tampak gagah, otak NKRI selalu berevolusi, diawal kelahiran si otak bernama Soekarno, cukup lama si otak nyaman dengan kondisinya. Ketika otaknya terkena virus, si otak bergaya ala Safrudin Prawiranegara dan Assat, setelah virus pergi, si otak kembali bergaya Soekarno. NKRI saat itu adalah balita yang istimewa, balita yang mau memimpin dunia, punya banyak inisiatif, banyak kreasi, membangun relasi, sangat digdaya dan harum namanya (mengguncang Jepang dan belanda, negara super power kala itu, memimpin gerakan non blok, inisiasi GANEFO, membentuk ASEAN, dll), Setelah bosan, NKRI mengganti otaknya dengan merek baru bernama Soeharto. NKRI yang beranjak remaja meneruskan bakat pemimpinnya, NKRI mulai cerdas mengelola sumber daya, membuka relasi semakin besar, NKRI tumbuh sehat secara jiwa dan raga, NKRI bergaya atletis dan sporty, dan mapan sehat dan bermartabat (Swasembada beras, inflasi kecil, pertumbuhan ekonomi kerakyatan baik, juara umum SEA GAMES, Thomas Cup dan Uber Cup),  ketika remaja, bersosialisasi dan maju dalam teknologi (Produksi pesawat, otomotif, elektronik, dll). Cukup lama NKRI menjadi pemuda/I yang terlihat digdaya. Apakah NKRI puas, ternyata tidak, NKRI bereformasi dan mengganti otaknya berkali-kali dalam waktu singkat hanya untuk memenuhi gaya hidup kekinian, mulai dari bergaya ala BJ Habibie, ala Abdurrahman Wahid dan ala Megawaty Sukarnoputri. NKRI terkenal dengan remaja labil pada masa itu, berkembang dalam krisis kepercayaan diri. Walau demikian NKRI memiliki jiwa dan raga yang sehat (masih di segani dalam dunia olah raga, banyak peneliti handal bersebaran di penjuru dunia). Mungkin karena lelah, NKRI memilih Susilo bambang Yudoyono sebagai otak baru, NKRI ternyata belum sembuh total dari masa labil, walau akalnya masih sehat , akal yang sehat (juara sains di berbagai even, pekerja-pekerja teknis yang handal tersevar di mana, menjadi anggota G-20, dll) namun banyak anggota tubuhnya yang luka, NKRI memakai pakaian mahal untuk menyembunyikan luka-luka itu. Terlihat berwibawa di mata orang (bangsa, red) lain tetapi NKRI terkena kanker (Korupsi merajalela). NKRI ternyata mau berubah, otaknya yang baru bernama Joko Widodo. Meski masih sakit terlihat gamang dan bingung ternyata NKRI tampak percaya diri tapi belum kokoh seperti yang terlihat (Kampanye Indonesia negara maritime yang mesti berdikari mulai di sanjung negara lain, tapi masih belum bebas korupsi)

NKRI masih menggeliat, NKRI memiliki unsur unsur baik seperti vitamin, mineral, gizi, mental, spritiual, virus baik, unusr-unsur itu mesti bercampur aduk menjadi satu agar bisa melawan virus jahat, dan kuman-kuman, agar tak menggerogoti wibawa, raga, jiwa, dan keharumannya.

Pertanyaan dan penyataan kritis, siapakah vitamin, mineral, gizi, spiritual, mental baik, virus baik? Dan siapakah sesungguhnya lawan mereka? Kenapa mesti para lawan yang menonton unsur-unsur baik bermusuhan tak jelas arah,  bukankah hal-hal baik mestinya bersenyawa dan bersinergi demi NKRI

Wahai Merdeka kau tak perlu berkaca pada bangsa lain

Kau tak perlu iri dan cemburu pada bangsa lain

Wahai Merdeka, kenalilah dirimu, siapakah sesungguhnya dirimu maka kau akan selamat.

Wahai Merdeka, NKRI itu hanya nama, diri mu dan pemilik dirimu lah yang di kenal dan itu harga mati bukan NKRI.

Wahai Merdeka, masih ingatkan proses terlahirnya dirimu?

Nikmat apa lagi yang kau cari? Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?

Dirgahayu Indonesia ku yang 71,  MERDEKA

Salam

Fadli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s