Posted in Islam, Membaca Al-Qur'an

Surat #6 Surat Al-An’am atau Binatang Ternak

Surat Al’Anam (bahasa Arab:الانعام, al-An’ām, “Binatang Ternak”) ada pada bab 7 dan bab 8 dalam Al-Qur’an yang tertulis. Surat ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surat Makkiyah, karena hampir seluruh ayat Surat ini diturunkan di Mekkah sebelum Rasulullah hijrah

Dinamakan Al-An’am (binatang ternak) karena di dalamnya disebut kata An’am, Dalam surat ini ayat 118-121 juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa orang-orang datang menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Ya Rasulallah. Mengapa kita boleh makan yang kita sembelih dan dilarang makan yang dimatikan oleh Allah?” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 118-121) yang menegaskan bahwa yang halal dimakan adalah sembelihan yang disaat menyembelihnya dibaca bismillah (dengan nama Allah).

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa firman Allah,…. wa innasy syayaathiina la yuuhuuna ilaa auliyaa-ihim li yujaadiluukum…(… sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu…) (al-An’am: 121), turun berkenaan dengan ucapan kaum musyrikin yang bertanya: “Mengapa kalian tidak makan apa yang dimatikan oleh Allah dan kalian makan apa yang kalian sembelih?” Ayat ini (al-An’am: 121) memberi peringatan kepada kaum Mukminin supaya tidak mengikuti ajakan setan.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika turun ayat, wa laa ta’kuluu mimmaa lam udzkararismullaahi ‘alaih…(dan janganlah kamu memakan binatang yang tidak disebut Nama Allah ketika menyembelihnya..) (al-An’am: 121), seorang pengendara kuda diutus untuk menghasut kaum Quraisy agar menentang Muhammad tentang sembelihan henwan (dengan mengatakan): “Mengapa yang disembelih dengan pisau oleh manusia itu halal, sedang yang dimatikan oleh Allah itu haram?” Maka turunlah kelanjutan ayat tersebut.
Dalam hadits ini dikemukakan pula bahwa yang dimaksud dengan asy-syayaathiin..(..setan..) dalam ayat itu (al-An’am: 121) ialah pengendara kuda, sedang …auliyaa-uhum..(…kawan-kawannya…) ialah kaum Quraisy.

122. “Dan apakah orang yang sudah mati Kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang Telah mereka kerjakan.”
(al-An’am: 122)

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari adl-Dlahhak bahwa turunnya ayat ini (al-An’am: 122) berkenaan dengan ‘Umar dan Abu Jahl.

Keterangan: dalam tarikh dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah berdoa: “Ya Rabbanaa, semoga Islam jaya dengan sebab salah seorang dari dua ‘Umar (‘Umar bin al-Khaththab atau ‘Amr bin Hisyam /Abu Jahal).” Ternyata ‘Umar bin al-Khaththab-lah yang masuk Islam. Dialah yang dimaksud dengan ‘orang yang tadinya mati kemudian dihidupkan’ dan ‘Amr bin Hisyam yang dimaksud dengan ‘orang yang tetap dalam kegelapan.’

Ayat-ayat pada surat ini yang menggelitik relung hati dan akal

Pada ayat 2 surat Al-An’am, Al-quranul adhim menyatakan awal mula kejadian Manusia yang berasal dari tanah, apakah benar demikian? Padahal pada surat Al-Mu’minun ayat 12 Allah menyatakan manusia berasal dari saripati tanah. Untuk mengetahuinya kita perlu selidiki ayat mana yang lebih dulu di firmankan dan apa hakekat (maksud) yang sesungguhnya.

 Allah pun telah menentukan ajal dan tentang kebangkitan manusia pada masa yang lain. Pertanyaan berikut adalah dimanakah manusia di bangkitkan setelah di ajalkan? Kenapa kita masih ragu dengan kebangkitan lagi? Apakah kebangkitan yang dimaksud Allah Swt adalah juga reinkarnasi seperti yang di anut oleh agama lain?

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن طِينٖ ثُمَّ قَضَىٰٓ أَجَلٗاۖ وَأَجَلٞ مُّسَمًّى عِندَهُۥۖ ثُمَّ أَنتُمۡ تَمۡتَرُونَ

Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu)

Allah menegaskan bahwa manusia akan menemui kematian melalui ayat 61

وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۖ وَيُرۡسِلُ عَلَيۡكُمۡ حَفَظَةً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ تَوَفَّتۡهُ رُسُلُنَا وَهُمۡ لَا يُفَرِّطُونَ ٦١ [سورة الأنعام,٦١]

Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya [Al An’am61]

Nabi Ibrahim memberi tips untuk menghadap Allah Swt yakni dengan agama yang benar dan tidak mempersekutukan Allah Swt. Kita sering membaca ini dan merupakan bagian dari do’a iftitah

 إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٧٩ [سورة الأنعام,٧٩]

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan [QS Al An’am79]

Allah mengingatkan lagi kepada manusia pada ayat 94 bahwa manusia di jadikan, di ciptakan dan telah menemui-Nya seorang diri di awal kejadian manusia serta akan mematikan manusia juga seorang diri

وَلَقَدۡ جِئۡتُمُونَا فُرَٰدَىٰ كَمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَتَرَكۡتُم مَّا خَوَّلۡنَٰكُمۡ وَرَآءَ ظُهُورِكُمۡۖ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمۡ شُفَعَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُمۡ أَنَّهُمۡ فِيكُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْۚ لَقَد تَّقَطَّعَ بَيۡنَكُمۡ وَضَلَّ عَنكُم مَّا كُنتُمۡ تَزۡعُمُونَ ٩٤ [سورة الأنعام,٩٤]

Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa´at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah)[Al An’am94]

Allah memastikan bahwa derajat setiap orang adalah sesuai apa yang diperbuat oleh manusia itu sendiri, Allah Swt bisa memusnahkan atau meninggikan derajat seperti kalamnya pada ayat 132-133

وَلِكُلّٖ دَرَجَٰتٞ مِّمَّا عَمِلُواْۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ ١٣٢ وَرَبُّكَ ٱلۡغَنِيُّ ذُو ٱلرَّحۡمَةِۚ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفۡ مِنۢ بَعۡدِكُم مَّا يَشَآءُ كَمَآ أَنشَأَكُم مِّن ذُرِّيَّةِ قَوۡمٍ ءَاخَرِينَ ١٣٣

Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain [QS Al An’am,132-133]

 Dan ayat (165) penutup pada surat ini

 وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَكُمۡ خَلَٰٓئِفَ ٱلۡأَرۡضِ وَرَفَعَ بَعۡضَكُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمُۢ ١٦٥ [سورة الأنعام,١٦٥]

Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [QS Al An’am165]

Pokok Surat Al-An’am kurang lebih di kelompokkan sebagai berikut

1) Tauhid sang pemenang; ayat 1-49
2) Tuntutan-tuntutan bermasyarakat ; ayat 50-73
3) Cara Nabi IBRAHIM AS memimpin kaumnya untuk bertauhid; ayat 74-83
4) Mereka yang telah diberi kitab, Hikmah dan kenabian; ayat 84-92
5) Kebenaran Wahyu Allah SWT; ayat 93-110
6) Sikap Kaum Musyrikin terhadap kerasulan Muhammad SAW ; ayat 111-129
7) Derajat seseorang seimbang dengan amalnya; ayat 130-135
8) Peraturan-peraturan yang dibuat kaum musyrikin dan panduan Allah SWT kepada kaum muslimin ; ayat 136-165

Maha Nyata Allah atas segala kehendak-Nya

Fadli

Sumber ;

  1. Wikipedia ; https://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-An%27am
  2. https://tafsiralquran2.wordpress.com/2012/11/01/m6/
  3. Asbabun nuzul surat Al-anam

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s